KUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Peringatan kesehatan masyarakat saat fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda biasanya berfokus pada gangguan pernapasan.

Namun, para ahli medis kini membunyikan alarm bahaya terkait dampak tersembunyi yang sering terabaikan pada organ terbesar tubuh manusia, yaitu kulit, serta kesehatan kulit kepala dan mata.

Seiring berfluktuasinya kualitas udara, partikel halus berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5, partikel berukuran diameter 2,5 mikrometer, membawa risiko signifikan yang dampaknya jauh melampaui kotoran di permukaan.

Konsultan Dokter Spesialis Kulit dari UM Specialist Centre, Dr. Nik Aimee Azizah Faheem, menjelaskan bahawa partikel mikro ini sangat berbahaya karena sifatnya yang tersembunyi.

“Kabut asap bukan sekadar debu dan polutan biasa, di dalamnya terdapat partikel PM2.5 yang sangat kecil, berukuran 2,5 mikrometer. Partikel-partikel ini dapat menembus jaringan tubuh kita, baik itu kulit, paru-paru, maupun mata,” kata Dr. Nik Aimee, dilansir dari Malaymail, Jumat (25/9/2026).

Kerusakan tak kasat mata

Ketika partikel PM2.5 berhasil masuk dan menyusup ke dalam pori-pori, lapisan pelindung alami (skin barrier) akan terganggu. Hal ini memicu peningkatan sensitivitas, kulit kering, iritasi, hingga memicu kambuhnya penyakit kulit bawaan seperti eksim, psoriasis, dan jerawat.

Namun, kerusakan yang ditimbulkan bisa menembus jauh lebih dalam.

Konsultan Dokter Spesialis Kulit dan Bedah Dermatologi di Subang Jaya Medical Centre, Dr. Kwan Zhenli, menjelaskan bahwa kabut asap terdiri dari materi partikulat yang berasal dari asap, debu, kelembapan, dan uap yang terperangkap di udara sehingga mengganggu jarak pandang.

“Materi partikulat dalam kabut asap dapat menembus kulit, menyebabkan stres oksidatif dan peradangan,” kata Dr. Kwan.

“Kabut asap juga mengubah komposisi mikrobioma kulit, yang dapat merusak fungsi barrier kulit. Polutan udara berinteraksi secara sinergis dengan radiasi sinar UV untuk memperburuk kerusakan kulit akibat oksidasi, karena perubahan lapisan ozon akibat polusi memungkinkan lebih banyak transmisi sinar UV ke permukaan Bumi,” Dr. Kwan menjelaskan.

Efek sinergis antara polusi dan sinar UV ini menjadi perhatian utama para dokter spesialis kulit. Banyak masyarakat secara keliru menganggap bahwa langit yang tertutup kabut asap atau mendung berarti paparan sinar UV berkurang.

“Banyak orang mengabaikan langkah-langkah perlindungan dari sinar Matahari seperti menggunakan tabir surya (sunscreen), topi pelindung, kacamata hitam, dan pakaian pelindung UV, karena mengira tidak ada sinar UV yang berbahaya,” kata Dr. Nik Aimee memperingatkan.

“Hal ini dapat menyebabkan efek kerusakan akibat sinar Matahari (photo-damaging) jangka panjang seperti gangguan pigmentasi, kerutan, dan berpotensi memicu kanker kulit,” tambahnya.

Dampak kronis ini juga ditegaskan oleh dokter spesialis kulit dari Pantai Hospital Cheras, Dr. Low Dyoi-E.

“Paparan berkepanjangan dapat mempercepat penuaan dini pada kulit dengan mendorong kerusakan radikal bebas pada kolagen dan elastin,” ujar Dr. Low.

“Ini juga dapat menyebabkan kulit kusam, pigmentasi tidak merata, dan melemahnya barrier kulit, yang meningkatkan kelembapan berkurang (kering) serta berpotensi memperburuk kondisi peradangan seperti eksim,” tambah Dr. Low.

Bahaya mengintai kulit kepala dan rambut

Tidak hanya kulit wajah dan tubuh, area kulit kepala juga sangat rentan terhadap paparan kabut asap. Partikel PM2.5 dapat menyumbat folikel rambut yang berujung pada peradangan dan penumpukan kotoran.

“Pada kulit kepala, partikel-partikel ini juga dapat menembus dan menyumbat folikel rambut kita,” kata Dr. Nik Aimee.

“Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada barrier kulit kepala, penumpukan kotoran dan sel kulit mati, serta pertumbuhan berlebih dari Malassezia furfur, yaitu sejenis jamur komensal normal di kulit kepala kita,” jelasnya seraya menambahkan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan kulit kepala meradang, gatal, dan bersisik yang dikenal sebagai dermatitis seboroik.

Dr. Kwan menambahkan dampak buruk materi partikulat pada kesehatan rambut.

“Materi partikulat dapat memicu respons peradangan pada folikel rambut, menyebabkan kerusakan kimiawi dan oksidatif yang mengakibatkan hilangnya kilau rambut, pelemahan struktur, hingga kerontokan rambut, termasuk kondisi seperti alopecia areata,” papar Dr. Kwan.

Dampak pada mata dan kerentanan anak-anak

Mata menjadi organ yang paling cepat merasakan efek iritasi akibat kabut asap. Dalam jangka pendek, paparan polusi menyebabkan mata kering, kemerahan, rasa gatal, hingga konjungtivitis (peradangan selaput mata).

Namun, paparan yang terus-menerus dapat berakibat jauh lebih serius.

“Efek jangka panjangnya dapat berupa mata kering yang persisten, katarak, dan glaukoma,” jelas Dr. Nik Aimee.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko tinggi (vulnerable) menghadapi ancaman kesehatan ini. Hal ini disebabkan oleh tingkat aktivitas fisik anak-anak yang lebih tinggi serta sistem imun dan pernapasan yang masih dalam tahap perkembangan.

Dr. Kwan menekankan bahwa anak-anak lebih rentan terhadap dampak kabut asap karena mereka biasanya menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan, lebih aktif secara fisik, dan memiliki sistem pernapasan yang sedang berkembang sehingga lebih rentan terhadap efek materi partikulat.

Kapan harus mulai waspada?

Meskipun tindakan pencegahan harian sangat dianjurkan, terdapat ambang batas tingkat kualitas udara tertentu yang harus diwaspadai masyarakat.

Dr. Nik Aimee menyebutkan bahwa bagi individu yang memiliki riwayat penyakit kulit, rambut, atau mata, tingkat Indeks Pencemar Udara (IPU/API) pada angka 50 ke atas sudah bisa memicu kambuhnya gejala (flare-up).

Sementara itu, bagi masyarakat umum, tingkat IPU sebesar 100 ke atas sudah cukup untuk menyebabkan kulit kering dan iritasi.

Para ahli medis menyarankan sejumlah langkah mitigasi serangkaian untuk melindungi diri dari bahaya kabut asap:

  • Utamakan pencegahan: Langkah nomor satu adalah pencegahan, itu berarti tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas di luar ruangan.
  • Hindari lensa kontak dan kurangi screen time: Hindari penggunaan lensa kontak karena dapat memerangkap partikel polutan di mata, serta kurangi waktu menatap layar untuk mencegah ketegangan dan kekeringan mata.
  • Gunakan pembersih udara dan pola makan sehat: Dr. Kwan menyarankan untuk tetap berada di dalam rumah, menggunakan pembersih udara (air purifier), minum banyak air putih, dan mengonsumsi makanan sehat kaya antioksidan.
  • Perawatan kulit (skincare) yang tepat: Dr. Low menyarankan penggunaan pelembap yang mengandung ceramide, hyaluronic acid, atau niacinamide. Penggunaan antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, dan niacinamide juga sangat membantu melawan stres oksidatif.
  • Wajib gunakan tabir surya: Dr. Nik Aimee dan Dr. Low menegaskan pentingnya memakai sunscreen setiap hari tanpa memedulikan seberapa redup atau tertutupnya langit oleh kabut asap.
  • Bilas tubuh setelah dari luar: Cuci wajah dan kulit kepala setelah terpapar udara luar, hindari menggosok kulit terlalu keras.

Sumber:  Kompas